Rabu, 10 September 2014

Misa Deigratia I September 2014

Salam Damai Sejahtera bagi kawan Deigratia sekalian,
Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus, kembali kami mengundang suster, bapak, ibu dan saudara/saudari sekalian untuk bersama-sama merayakan perayaan Misa Ekaristi pada:
Hari,Tanggal: Minggu, 14 September 2014
Pukul : 13.00 (1.00 PM)
[diawali dengan persiapan lagu-lagu untuk Misa dan selanjutnya pada pukul 13.30 tepat misa akan dimulai]
Tempat : LABOR PASTORAL COMMISSION OF THE ARCHDIOCESE OF SEOUL
Alamat : Bomun-dong 5ga 14-1, 5F Seongbuk-gu, 136-085.

Adapun setelah Misa,seperti biasa akan diadakan santap makan bersama.
Petugas konsumsi dan liturgi untuk misa mendatang adalah kelompok "Markus". Harap berkoordinasi dengan saudara Arnold Adikrishna dan Heroniko Halim
Bagi kawan-kawan Katolik yang mau bergabung mengikuti misa tersebut, bisa langsung mendatangi Gedung tersebut dengan rute sebagai berikut:
Turun di Bomun Station line 6. di Exit 8.
Dari pintu exit 8 anda kearah balik kiri dan ikuti arah trotoar belok ke kanan (jangan menyebrang jalan) jalan kira2 100m di sebelah kanan ada gedung bertuliskan LABOR PASTORAL COMMISSION OF THE ARCHDIOCESE OF SEOUL.
Gunakan lift menuju lantai 5
keluar dari lift, jalan lurus hingga menemukan ruangan Kapel di sebelah kiri
- Kelompok "Markus"
Yohana Kurnia Endah
Fajar Sastrowijoyo
Chris Tiand
Theresia Ratih Ds
Bimo Satrio
Devina Maria Delphine
Christine Adelina Luie
Stefani Adriana
=======================================================
Pekan Biasa XXIII; 1Kor 7:25-31; Mzm 45; Luk 6:20-26

Lukas 6:20-26 membuat kontras antara ‘berbahagialah’ (Yun.makarios),dengan ‘celakalah’ (Yun. ouai). Makna makarios adalah berada dalam ‘keadaan yang lama, di mana berkat dari Allah datang terus-menerus’.

Sebaliknya, ouai adalah ungkapan ‘kasihan terhadap mereka yang terkena pengadilan Illahi’. Tak ada lagi jalan menuju keselamatan bagi mereka yang sudah dikenai ouai.

Dalam Injil Lukas, Yesus menyebut mereka ‘yang miskin, lapar, menangis, dan dianiaya’ sebagai makarios. Mereka telah mengganti orientasi hidup: bermetanoia, mengosongkan diri, serta menutup semua hal yang menghalangi kehadiran Allah. Mereka menjadi lapar dalam roh, agar selalu mencari manna dari Sabda dan Roh Allah. Mereka selalu menangisi dosa, agar memperoleh kebebasan dari beban penindasan maut. Untuk menjadi makarios dibutuhkan iman (lih. Rom 4:5-7; 14:22- 23).

Sebaliknya, seruan ouai diterima mereka ‘yang kaya, kenyang, tertawa, dan di puji orang’. Ouai, celakalah, karena mereka berada jauh dari Allah, seluruh hidupnya telah dipenuhi ‘yang bukan Illahi’. Yang berkuasa hanyalah individualisme dan cinta diri, yang secara berurutan ‘melahirkan’ totalitarianisme, diskriminasi, kemiskinan, dana kehancuran martabat.

Ketika membaca perikop ini, mistikus Spanyol, St Yohanes Salib, mengatakan, “Biarkanlah jiwa saya hidup seakan-akan terpisah dari badanku”. Karena, menjadi ‘kosong’ berarti Allah telah memenuhi hidup ini, makarios sejati.
=======================================================
have a nice day !!
God bless !!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar